Sunda

Hati ini sudah jatuh cinta pada Sunda. Sunda menawarkan rasa yang berbeda bagi yang sedari kecil mengenal Jawa. Sunda merupakan landscape yang indah dengan komposisi yang sempurna. Bagi yang menyukai pagi dalam penggalan waktu 24 Jam sehari, Sunda menawarkan sebaik-baik pagi dengan langit biru berhiaskan capung. Bagi yang mengharapkan janji akan kehidupan yang lebih baik, sunda adalah ketenangan hidup dengan segarnya udara. Sunda adalah pagi, tatkala kecantikannya muncul, mengumbar aroma harum tanahnya selepas hujan semalam, sepenggal waktu dimana ia berjanji menunjukkan pesona terbaiknya.

Adalah Majapahit, kerajaan Nusantara yang menyalahkan Sunda, sebagai biang kerok awal keruntuhannya. Nusantara yang sudah sekian lama dipersatukan melalui panji-panji palapa, akhirnya harus hancur lebur setelah diusirnya Sang Mahapatih. Andai Gadjah Mada tidak dipecat dengan tidak hormat, andai lobi-lobi mempersatukan sunda jawa dengan perkawinan sang raja itu berhasil, andai Hayam Wuruk tak jatuh cinta pada puteri sunda galuh yang jelita, andai gadis sunda tak berparas cantik. Kenyatannya tak ada yang tak mengakui kecantikan gadis-gadis sunda, tak ada yang tak membenarkan paras anggun Dyah Pitaloka Citraremsi, tak ada yang berani menentang cinta Hayam Wuruk padanya. Bahkan Mahapatih yang awalnya akan memerangi Sunda pun akhirnya pasrah, tak berdaya.

Continue reading

Pitutur Becik

Hidup sejatinya adalah sejarah yg berulang. Mempelajari sejarah memperkaya diri kita dengan segudang permasalahan hidup dan solusinya. Sejarah memperkaya kita dengan hitam putihnya kehidupan, pahit manisnya kenyataan. Sejarah mengajarkan kepada kita, yang buruk pada akhirnya akan terlihat, yang baik pada akhirnya jaya, hanya waktu yang menjadikan semua terlihat terang. Dosa dan pahala tidak pernah tertukar. Kebaikan tak akan pernah tertukar dengan keburukan.

Dengan sejarah, justru kita akan lebih mengenali hidup kita. Setiap kita, diciptakan dengan misi hidupnya sendiri-sendiri. Menjalankan misi yang diemban boleh jadi ia harus melalui malam, melalui derita dan kesedihan yang mendalam. Hidup tentunya tak selalu di atas, tak selalu pula di bawah, semua berotasi. Tak selalu linear, terkadang siklikal. Tapi pada akhirnya setelah kita sudah berada sejarak pada titik kehidupan yang lampau, justru kita bisa dengan jernih melihat yang gelap di masa lalu sesungguhnya bagian dari proses untuk menemukan cahaya saat ini. Kesulitan di masa dulu sejatinya adalah modal untuk menemukan sukses di masa kini.

Keadilan ilahi hanya bisa diyakini oleh mereka yang berjiwa besar. Mereka yang memiliki keyakinan bahwa penguasa bumi dan langit sangat adil dalam menuliskan garis hidup masing-masing makhluknya. Ibarat daun yang jatuh dari pohon tak akan pernah membenci angin, karena itulah titah Tuhan kepadanya. Jatuh bagi daun merupakan manfaat yang lebih besar bagi yang lain, bahkan daun yang busuk pun tak akan menyalahkan siapa pun, mempunyai manfaat yang mulia.

Apapun masalah yang datang padamu, bersyukurlah, justru itu akan memperkaya ilmumu. Terkadang ada manfaat bagi orang lain, dengan masalah yang kamu terima. Jika saat ini kamu merasa terpuruk, merasa menjadi orang yang paling tidak beruntung di dunia, bertahanlah, waktu saja yang kan menjadi obatnya, ketika sudah saatnya, semua akan terasa indah, terasa jernih untuk diambil hikmah dan manfaatnya.

Bagaimana dengan perasaan hati? Apakah harus sedih atau bahagia ketika merasa terpuruk?. Sebelum menjawab itu, kita harus tahu terlebih dulu apa definisi kebahagiaan. Pada dasarnya, hatilah yg mengendalikan kebahagiaan. Hakikat sejati kebahagiaan tatkala kita bisa membuat hati bagai danau dalam dengan sumber mata air sebening air mata, sehingga kotoran apapun yang mengusik danau itu, segera akan larut oleh mata air yang senantiasa mengucur deras. Usikan apapun tak akan sanggup membuat keruh air danau tersebut. Jadi, mau berita gembira ataupun kabar buruk yang datang pada kita, hati kita senantiasa jernih dan bahagia. Itulah hakikat kebahagiaan sejati. Tak ada cara lain untuk menjelaskan kebahagiaan sejati selain itu.

Pernikahan Sahabat

Engkau gemilang, malam cemerlang
bagaikan bintang timur sedang mengambang
tak jemu jemu, mata memandang
aku namakan dikau juwita malam

sinar matamu, menari nari
masuk menembus ke dalam jantung kalbu
aku terpikat, masuk perangkap
apa daya asmara sudah melekat
juwita malam, siapakah gerangan tuan
juwita malam, dari bulankah tuan

kereta kita, segera tiba
di Jatinegara kita kan berpisah
berilah nama, alamat serta
esok lusa boleh kita jumpa pula

Tepuk tangan undangan yang hadir sungguh riuh, membuat hati ini tersanjung. Latihan yang keras selama seminggu ternyata berbuah hasil. Tidak hanya mampu menghibur undangan, tetapi juga mampu mengundang senyum bahagia pada sahabat yang tengah duduk di pelaminan, menikmati indahnya hari pernikahan.

Vita, seorang sahabat yang mengajari sebuah misteri yang dinamakan rahasia kehidupan. Dalam sebuah percakapan yang mendalam di awal pertemuan dengannya, saat sama-sama menjadi pengurus dalam sebuah badan semi otonom di kampus. Dia menjelaskan mengapa dalam hidup, kadang semua tidak terjadi sesuai skenario terbaik yang telah kita susun. Tetapi juga tidak boleh menganggap hidup seperti sebuah peruntungan dalam meja judi. Jangan pernah bertaruh dalam hidup, kecuali dengan keyakinan untuk menang.

Continue reading

Gila

Namaku Hanggini. Tapi orang memanggilku gila. Atau edan, kenthir, atau apa saja yang bersinonim dengan arti ‘tidak waras’. Aku tidak tahu dan tidak mengerti mengapa mereka memanggilku seperti itu. Apakah karena aku selalu tidur di emperan? Atau karena pakaianku yang compang-camping? Ataukah karena aku sering tertawa sendiri?

Sebenarnya aku tidak selalu tidur di emperan. Kadang aku tidur di bangku taman sana. Di pasar. Di terminal. Atau di halaman rumah orang. Dimana sajalah. Aku tidak terikat tempat. Toh aku tidur di atas bumi yang milik Tuhanku. Bukan milik manusia-manusia itu. Kadang aku malah kasihan dengan mereka. Untuk memejamkan mata saja kok repot sekali. Harus di atas tempat tidur, harus hangat..bla..bla..bla..ugh, repot sekali. Lebih baik seperti aku, begitu ngantuk, langsung ‘nglekar’.

Continue reading

Selamat Malam Gischi

August,21 2005
Tengah malam

Selamat malam Gischi.

Entah kenapa tiba-tiba malam ini aku teringat kepadamu. Mungkin karena tadi aku baru saja nonton fear factor yang salah satu pesertanya bernama Gischi. Seperti namamu. Tapi sayang ia kalah Gis. Jatuh ketika bergelantungan di helikopter. Lewatlah 50 ribu dollar itu.

Apa kabar Gischi. Apa kabar Inggris? Di email terakhirmu kau tidak menceritakan tentang suasana di sana seperti emailmu yang lalu-lalu. Padahal cerita tentang Inggrislah yang selalu kunanti dalam setiap emailmu. Cerita tentang sebuah negeri yang mungkin tidak akan pernah kukunjungi. Cerita tentang sungai Thames-nya. Cerita tentang sebuah negeri dengan raja, ratu serta pangeran tampan dan puteri cantik, bagaikan di dongeng saja.

Bukan cerita tentang dorm-mu atau teman-temanmu yang kau sebut sok karena sering meremehkan semua yang bukan berasal dari barat. Hari gini, jaman globalisasi begini, masih ada juga yang mempermasalahkan perbedaan suku bangsa?! Halooo…kemana aja mas-mas bule?!! Kalo menurutku sih biarkan saja mereka Gis. Anjing menggonggong kafilah berlalu.

Continue reading

Dibalik "Gambaru" Jepang dan Semangat Puputan

gambaru2Salut buat “Gambaru” nya Jepang, seperti yang ditulis oleh rouliesther dalam tulisannya “Say YES to GAMBARU!”. Menurut rouliesther GAMBARU bermakna berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan atau bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha abis-abisan. Gambaru itu sendiri, terdiri dari dua karakter yaitu karakter “keras” dan “mengencangkan”. Jadi image yang bisa didapat dari paduan karakter ini adalah “mau sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, kita mesti keras dan terus mengencangkan diri sendiri, agar kita bisa menang atas persoalan itu”

Continue reading

Masihkah anda dendam kepada Jepang?

Saya ingin bercerita, 3 kisah tentang Jepang. Pertama, belakangan ini film-film China yang dibintangi aktor Donnie Yen, mempunyai latar belakang di kurun masa Perang Dunia II, dimana saat itu Jepang berusaha untuk menduduki dan menguasai wilayah China, yaitu IP Man (2008), Bodyguard and Assassin (2009), dan Legend of the Fist : The Return of Chen Zhen (2010).  Film tersebut seolah ingin menggambarkan bahwa Jepang menang mutlak atas pendudukan sebagian wilayah China, tetapi perlawanan rakyat China juga tak kalah heroik. Dengan teknik kungfu yang diperankan sangat apik oleh Donnie Yen berhasil menggagalkan sebagian kecil dari pasukan jepang. Terkesan menunjukkan bahwa China ingin melawan keserakahan Jepang.

Continue reading