Engkau gemilang, malam cemerlang
bagaikan bintang timur sedang mengambang
tak jemu jemu, mata memandang
aku namakan dikau juwita malam
sinar matamu, menari nari
masuk menembus ke dalam jantung kalbu
aku terpikat, masuk perangkap
apa daya asmara sudah melekat
juwita malam, siapakah gerangan tuan
juwita malam, dari bulankah tuan
kereta kita, segera tiba
di Jatinegara kita kan berpisah
berilah nama, alamat serta
esok lusa boleh kita jumpa pula
Tepuk tangan undangan yang hadir sungguh riuh, membuat hati ini tersanjung. Latihan yang keras selama seminggu ternyata berbuah hasil. Tidak hanya mampu menghibur undangan, tetapi juga mampu mengundang senyum bahagia pada sahabat yang tengah duduk di pelaminan, menikmati indahnya hari pernikahan.
Vita, seorang sahabat yang mengajari sebuah misteri yang dinamakan rahasia kehidupan. Dalam sebuah percakapan yang mendalam di awal pertemuan dengannya, saat sama-sama menjadi pengurus dalam sebuah badan semi otonom di kampus. Dia menjelaskan mengapa dalam hidup, kadang semua tidak terjadi sesuai skenario terbaik yang telah kita susun. Tetapi juga tidak boleh menganggap hidup seperti sebuah peruntungan dalam meja judi. Jangan pernah bertaruh dalam hidup, kecuali dengan keyakinan untuk menang.
3 April 2011, selepas waktu dhuha, merupakan detik-detik bersejarah bagi sahabat yang banyak menyimpan rahasia-rahasia hidupku. Dia yang menyukai kesederhanaan dalam memandang hidup, mengajari sebuah strategi ampuh bagaimana mempengaruhi pikiran orang, yakni dengan ketulusan. Ketulusan membuat orang lain tidak menganggap kita musuh yang berbahaya, melainkan sebagai kawan. Dan itulah saat yang tepat untuk menyarangkan pikiran-pikiran kita pada orang lain.
Saya lupa kapan persisnya. Tapi yang jelas di sela-sela masa penyusunan skripsi, pertengahan tahun 2005, tiba-tiba dia mengajakku mendiskusikan sebuah kalimat terakhir dalam Novel Rumah Kaca, “Deposuit Potentes de Sede et Exalvatat Humiles”, Dia Rendahkan Mereka yang Berkuasa dan Naikkan Mereka Yang Terhina. Menurut dia, inilah tindakan yang harus dilakukan oleh generasi muda pada mereka yang menyia-nyiakan kekuasaan, mengabaikan amanah rakyatnya. Pengagum Wolfgang Amadeus Mozart ini berkali-kali meneriakkan kalimat itu dalam perancis.
Lagu yang kunyanyikan saat resepsi pernikahannya pun bukan tanpa alasan. Dia yang mengaku lebih menyukai apabila pertemuan dengan kekasihnya seperti cerita dalam roman roman klasik era tahun 1920 an, ternyata tidak terlaksana. Entah apa arti senyumannya ketika lagu ini selesai kulantunkan, apakah dia menertawakan pertemuan dengan kekasihnya yang tidak sesuai dengan impiannya, atau geli melihat gayaku saat bernyanyi. Tapi bagaimanapun kejadiannya, dia sudah faham ketika skenario terbaik yang diharapkan tidak terjadi, maka dia segera meyakini bahwa inilah pilihan Tuhan yang terbaik baginya.
Dalam balutan kerudung putih kau tersenyum, mengucapkan ikrar suci untuk saling mencintai. Dalam sholatku aku berdoa, agar dirimu senantiasa dalam lindungan Nya, bahagia selamanya. Amin.

aku marah.. tega sekali kau tak datang hari ini..
Tp lagi lagi, kupikir ini mungkin memang karmaku.
Tak datang pada pesta ketika kau melabuhkan kapalmu di sebuah dermaga indahmu, maka kini kau tak datang pula k pestaku..
Aku mengerti, sahabat, kalo ini memang karmaku..
Hanya doamu yg kuharapkan, dan aku yakin doamu telah sampai..
Terimakasih kasih, sahabat.. Untuk semua..
keren tulisanya agak senyum senyum sendiri saya hehehehe