Gila

Namaku Hanggini. Tapi orang memanggilku gila. Atau edan, kenthir, atau apa saja yang bersinonim dengan arti ‘tidak waras’. Aku tidak tahu dan tidak mengerti mengapa mereka memanggilku seperti itu. Apakah karena aku selalu tidur di emperan? Atau karena pakaianku yang compang-camping? Ataukah karena aku sering tertawa sendiri?

Sebenarnya aku tidak selalu tidur di emperan. Kadang aku tidur di bangku taman sana. Di pasar. Di terminal. Atau di halaman rumah orang. Dimana sajalah. Aku tidak terikat tempat. Toh aku tidur di atas bumi yang milik Tuhanku. Bukan milik manusia-manusia itu. Kadang aku malah kasihan dengan mereka. Untuk memejamkan mata saja kok repot sekali. Harus di atas tempat tidur, harus hangat..bla..bla..bla..ugh, repot sekali. Lebih baik seperti aku, begitu ngantuk, langsung ‘nglekar’.

Jadi aku tidak bisa disebut gila hanya karena tidur di sembarang tempat kan?

Pakaianku memang sobek di beberapa tempat. Lalu kenapa? Apakah karena itu lalu mereka boleh memanggilku gila? Lalu bagaimana dengan orang-orang yang kulihat di televisi kemarin? Aku lihat pakaian mereka juga sobek di perutnya. Di lututnya. Di pahanya. Dan mereka berjalan di tengah panggung, kemudian banyak orang yang menyaksikan mereka, dan bertepuk tangan untuk mereka. Apa mereka juga gila? Ah ya. Pasti mereka juga gila. Karena bila aku berjalan, banyak pula yang menyaksikan aku, malah anak-anak kecil mengikutiku, kemudian bersorak sorai untukku. Baiklah, kalau itu alasannya, aku tidak keberatan di sebut gila.

Bagi orang-orang, aku memang kelihatannya sering tertawa sendiri. Tapi sungguh, aku tertawa karena memang ada hal yang pantas untuk kutertawakan. Sering-seringnya sih, aku tertawa karena tingkah dan pikiran orang-orang yang sering memanggilku gila itu.

Pikiran? Ya. Aku bisa membaca pikiran orang-orang yang ada di hadapanku.

***********

Sudah dua hari aku berdomisili di emper toko ini. Aku suka duduk disini. Memperhatikan banyak orang yang berlalu lalang dan membaca pikiran mereka. Seperti membaca majalah, hanya lebih jujur dan lebih nyata, tanpa edit. Seperti menonton film, tetapi tanpa sensor.

‘Habis ambil gaji, langsung ke rumah Ima. Pamerin gaji pertama ke pak Baroto. Tunjukin calon menantunya ini punya masa depan’.

Seorang pemuda lewat di depanku. Sedang kasmaran rupanya. Wajahnya riang.

Di belakangnya seorang ibu berbadan gendut berjalan sambil menjinjing tas belanjaan yang setengah berisi barang belanjaannya.

‘Aduh, penjual telur sialan. Kemarin masih 6900 sekilo. Kok sekarang jadi 7600? Nggak jadi beliin upik celana deh. Maapin emak, Pik’.

‘Dipecat nih’. Seorang lelaki setengah baya berjalan resah. Kepalanya setengah botak. Wajahnya bingung. Keringat membanjiri wajahnya. ‘gimana jawabnya kalo pak Dirman tanya kemana piutang nasabah? Masa dijawab udah jadi motor?’

hihihi…koruptor kelas teri rupanya..

Ah, tapi hari ini tak ada yang menarik dari pikiran orang-orang itu. Standar saja. tak seperti kemarin. Lucu sekali. Seorang laki-laki gagah lewat di depanku seraya memandangku. Memandang sebelah payudaraku yang mengintip dari balik bajuku yang sobek.

‘Boleh juga. Sayang gila. Kalau tidak, boleh juga menemani aku malam ini’. Hahahahaha….aku tertawa terkikik-kikik ketika itu. Dan seperti biasa, orang-orang memandangku jijik. Tapi aku tak perduli. Aku suka sekali pada apa yang dipikirkannya tentang aku ketika itu.

Banyak lelaki yang lewat di depanku kemudian melihat kepadaku…eh, melihat buah dadaku.

Ada yang langsung melengos, jengah. (biasanya lelaki seperti ini termasuk lelaki yang alim atau pemalu). Ada yang melirik malu-malu. Ada pula yang terang-terangan melihat sambil berharap tiba-tiba saja bajuku sobek semua. Hahahahaha…..

Bahkan suatu ketika, pernah ada yang membandingkan aku dengan Sarah Azhari. Wahahahaha…. Sebenarnya yang gila mereka atau aku?

Tapi pikiran mereka semua mengatakan hal yang sama. Sayang gila.

Kadang aku kasihan pada mereka. Mereka hanya bisa memikirkan aku. Tapi tak bisa menyentuhku.

Tapi dulu pernah ada yang mencoba hendak menyentuhku. Ketika itu aku masih mangkal di terminal dekat pasar. Seorang preman pasar mencoba hendak memperkosaku.

Ia memelukku. Kemudian menyobek bajuku. Aku berontak. Dia semakin beringas. Dan tiba-tiba aku menjadi marah luar biasa. Entah darimana aku mendapat kekuatan yang luar biasa untuk melawan. Kucakar dia. Wajahnya, badannya, lengannya. Semua kucakar hingga berdarah-darah. Dia pun pergi meninggalkanku sambil menyumpahiku dengan kata-kata kotor. Hihihi….orang kotor, ya pantas bicara kotor. Aku yakin, bila dia tak langsung mengobati luka akibat cakaranku, dia pasti akan segera terserang tetanus. Soalnya kukuku hitaaaam sekali…

Hihihi. Aku terkekeh-kekeh tanpa bisa berhenti mengingat kejadian itu.

Sorang pemuda tiba-tiba lewat didepanku. Dia memandangku iba. Ah, aku sering sekali menerima pandangan seperti itu. Tapi pikirannya tulus, iba padaku. Ia menghampiriku dan menyodorkan dua lembar uang ribuan. Aku bengong. Yah, tapi kuterima juga uangnya.

Ia pun berlalu. Pikirannya masih dipenuhi rasa iba padaku dan pada orang-orang gila lainnya. Tapi aku yakin ia akan segera melupakan aku. Menganggapku seperti orang yang tidak pernah ada. Pikirannya akan beralih masalah lain, iba pada orang lain. Kemudian melupakannya juga. Begitu seterusnya.

Aku tak mengerti mengapa orang-orang itu kasihan padaku. Padahal aku merasa asik-asik saja dengan keadaanku ini. Aku adalah orang yang paling bebas. Tak ada peraturan yang membatasi ruang gerakku. Aku bisa telanjang di tempat umum. Aku bisa saja buang kotoran di sembarang tempat. Dan orang-orang akan memaklumiku. Aku bisa saja mengambil barang milik orang lain sesukaku. Mereka memang akan marah padaku. Tapi mereka maklum.

“Biarkan saja. dia kan gila” begitu selalu kata mereka.

Aku bahkan bisa saja mebunuh orang. Dan aku yakin tak akan masuk penjara. Paling masuk rumah sakit jiwa. Tapi kudengar sekarang rumah sakit jiwa sudah penuh dengan orang-orang kaya yang stress. Jadi pasti aku akan tetap bebas berkeliaran lagi. Jadi mengapa kasihan padaku?

Aduh..perutku melilit karena lapar. Aku tak ingat kapan terakhir lidahku ini mengecap makanan. Kupandang uang dua ribu dalam genggamanku. Aku bisa saja beli makanan dengan uang ini. Tapi akan aneh bukan? Orang yang dicap gila sepertiku melakukan transaksi dengan uang? Hihihihi…..sudah waras barangkali..

Aku bangkit. Kulangkahkan kakiku ke ujung jalan. Ada toko roti kecil disana. Aku biasanya meminta roti atau makanan di toko itu. Pemiliknya lumayan baik menurutku. Aku sering diberi dua potong roti semir. Memang kadang-kadang ia bersungut-sungut. Tapi aku tahu dari pikirannya, ia ikhlas memberiku roti itu.

Aku pun tak pernah mau makan makanan yang diberikan dengan tidak ikhlas. Entah kenapa, tapi rasanya pahit. Itulah kenapa, bila tak minta, aku lebih baik mencari makanan sisa di tong sampah. Lebih nikmat.

Aku kembali ke tempat mangkalku sambil menggigit roti semirku. Di jalan aku melihat seorang anak perempuan, 14 tahun kurasa, di dorong oleh seorang pria di kursi rodanya. Kakinya cacat. Polio. Sudah 10 tahun ia begitu. Aku tahu ia tersiksa sekali. Kakinya ingin berlari, menjejak bumi.

Aih, aku terluka membaca pikirannya.

Manusia seperti gadis itulah yang patut dikasihani. Bukan aku. Aku bisa berjalan. Berlari kemanapun aku mau. Sementara ia hanya di dorong kesana-kemari di atas kursi rodanya. Dalam hatiku, aku berdoa untuknya.

Kutinggalkan gadis itu. Aku menuju tempat mangkalku. Lho…tapi apa itu?! Ah sialan. Tempat mangkalku sudah ditempati orang lain. Siapa itu? Pengemis. Ya pengemis tua. Lancang! Itu tempat kesukaanku. Baru kutinggal 20 menitan, tempatku sudah direbut orang lain.

Aku sudah siap dengan raunganku ketika mataku menatap pengemis itu. Kakinya buntung dua-duanya. Kakinya hanya sebatas lutut. Ia duduk di atas papan beroda. Pengganti kakinya yang mengantarkannya mengelilingi kota ini.

Ku urungkan raunganku.

Orang ini lebih kasihan lagi. Sudah cacat. Miskin pula.

Lebih baik tak kubaca pikirannya, agar aku tak ikut terluka.

Biarlah aku mencari tempat mangkal lain saja. mungkin aku akan bertemu orang-orang baru dengan pikiran-pikiran baru. Atau aku kembali saja ke pasar. Bertemu lagi dengan preman yang dulu hendak memperkosaku. Aku yakin dia tak akan berani lagi padaku. Jadi kali ini, aku yang akan bermain-main dengannya. Hihihi…aku sudah senang membayangkannya.

Melewati pengemis itu, aku sempatkan meletakkan dua lembar ribuan yang sedari tadi masih kugenggam. Sudah lusuh sekarang, karena tanganku yang kotor dan basah. Tapi masih laku kan.

Pengemis itu ternganga.

Aku tak perduli dan melenggang pergi. Aku akan menemui teman premanku.

Namaku hanggini. Aku tidak gila. Aku hanya memandang dunia dengan cara yang berbeda.

Yogyakarta, September 24, 2005
Oleh : Vita

2 Responses to Gila

  1. Nice article….sangat inspiratif. Good luck and salam kenal yach sob…by info mesin roti

  2. sangat cerdas sekali..
    lanjutkan.!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s