Dibalik "Gambaru" Jepang dan Semangat Puputan

gambaru2Salut buat “Gambaru” nya Jepang, seperti yang ditulis oleh rouliesther dalam tulisannya “Say YES to GAMBARU!”. Menurut rouliesther GAMBARU bermakna berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan atau bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha abis-abisan. Gambaru itu sendiri, terdiri dari dua karakter yaitu karakter “keras” dan “mengencangkan”. Jadi image yang bisa didapat dari paduan karakter ini adalah “mau sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, kita mesti keras dan terus mengencangkan diri sendiri, agar kita bisa menang atas persoalan itu”

Menurut analisa saya, semangat Gambaru sendiri baru melekat dan membudaya di Jepang setelah kekalahannya dalam Perang Dunia II dan keinginan untuk bangkit pasca kalah perang. Dahulu, bangsa Jepang lebih memilih mati dan bunuh diri daripada menanggung malu akibat kekalahan dan kegagalan. Pahlawan Jepang yang dikenal dengan sebutan samurai akan melakukan harakiri atau bunuh diri dengan menusukkan pedang ke bagian perut jika kalah dalam pertarungan.

Ritul bunuh diri massal pun masih dilakukan tentara Jepang ketika menghadapi serangan tentara sekutu untuk merebut Pulau Iwo Jima dalam Perang Dunia II, Iwo Jima merupakan pulau yang lokasinya cukup strategis untuk digunakan pangkalan militer tentara sekutu dalam misi penyerangan ke Tokyo.  Beberapa literatur sejarah, salah satunya di wikipedia menyebutkan bahwa 21,569 tentara Jepang tewas karena perang maupun ritual bunuh diri. Opini Clint Eastwood dalam filmnya “Letters from Iwo Jima” yang direkonstruksi berdasarkan surat-surat Jendral Tadamichi Kuribayashi, menggambarkan bagaimana larangan  sang jendral kepada prajuritnya agar tidak bunuh diri walau gagal mempertahankan zona tugasnya tetap tidak bisa terelakkan. Dengan adanya peristiwa harakiri massal oleh sebagian prajuritnya menyebabkan kekalahan jepang yang terlalu dini.

iwojimabattlehiroshimanagasaki

Peristiwa luluh lantaknya kota Hiroshima dan Nagasaki kiranya yang membuat sadar masyarakat Jepang. Apa yang bisa diharapkan untuk segera bangkit dari keterpurukan dan kerugian besar pasca perang selain semangat. Apa yang membuat Jepang mampu bangkit kembali dengan kekuatan yang luar biasa setelah mengalami kehancuran dahsyat dalam Perang Dunia II, semangat Gambaru lah yang melatarbelakangi.

Beruntunglah bagi masyarakat Jepang karena mempunyai kata “Gambaru” dalam perbendaharaan bahasanya dan diterapkan dalam budaya kehidupannya. Walau ini masih bertentangan dengan tingginya angka bunuh diri di Jepang yang saya peroleh dari data suicide.org tahun 2002. Dikatakan bahwa angka bunuh diri di Jepang >13 per 100.000 populasi penduduk. Apabila penduduk di Jepang sekitar 128 juta penduduk, berarti sekitar 50 orang per hari bunuh diri di suatu tempat di Jepang.

suicide-rates-map

Indonesia mempunyai kata dengan makna yang kurang lebih sama dengan Gambaru, yakni Puputan. Semangat Puputan telah dianut oleh orang-orang Bali untuk merespons kekuatan dari luar yang telah bermula dari abad ke-20. Puputan telah dikenal pada periode Puputan Badung (20 September 1906), Puputan Klungkung (28 April 1908), sampai Puputan Margarana (20 November 1946), 65 tahun silam. Bahkan semangat puputan masih relevan di Bali hingga saat ini, berjuang sampai dengan darah penghabisan, pantang mundur dengan semangat membaja. Inilah semboyan puputan yang sering memotivasi semangat juang Atlet dari kontingen Bali dalam kancah olah raga nasional. I Putu Hady Diyatmika menambahkan bahwa semangat Puputan ini tercermin dalam keseharian masyarakat Bali, gotong royong dalam segala kegiatan seperti upacara adat keagamaan, pembangunan jalan desa, balai subak, dll. “Semangat bekerja, tanpa kendor sampai pekerjaan selesai !!!”, itu intinya, kata Putu Hady.

Sayangnya kata puputan belum dijadikan serapan dalam Bahasa Indonesia maupun dijadikan budaya bagi masyarakat Indonesia. Negara kita sebenarnya memiliki banyak keanekaragaman budaya yang kadang belum dijiwai oleh segenap masyarakatnya, semangat Puputan hanyalah salah satu dari sekian banyak. Mungkin perlu kehancuran yang dahsyat bagi Bangsa Indonesia agar bisa menjadikan semangat Puputan dalam  budaya kehidupan masyarakatnya.

Advertisement

5 Responses to Dibalik "Gambaru" Jepang dan Semangat Puputan

  1. cak, aku biyen pas skripsi wis gawe iket ndas, tulisane gambaru :D
    #gawene pas mentok, kesuwen, lha semester 12 wkwkwk

    o yo, pas kui aku mikir, gawe skripsi ki ga perlu kerja keras
    tapi kerja cerdas, sayang aku cerdas yo mung sesasi pas injury time kui
    huehehehe
    moto kerja cerdas padanan boso korea, tp lali bosone…

    *sory boso jowo

    • Hahahaha, kowe mesti ngapusi, ketoke iket ndasmu kae tulisane dudu Gambaru, ning RAMBO. Aku ra pati ngerti bahasa jepang karo kore je noph, lha wong biyen sinaune bahasa arab. :)

  2. good writing brother..

  3. yg kebanyakan d serukan malah gambaru. Padahal kita jg punya semangat itu dlm puputan ya..
    Kalo gt, SAY YES TO PUPUTAN!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s